PERKEMBANGAN PUISI






Sastra Masa Peralihan

Kesusastraan masa peralihan dikenal pula dengan nama masa Abdullah. Disebut demikian karena dialah orang Melayu yang pertama kali menguak tradisi lama dalam dunia karang - mengarang. Abdulah mulai merombak cara – cara lama yang telah dianggapnya usang. Ia mulai melukiskan sesuatu yang terjadi di luar istana. Dalam karangannya digoreskannya kehidupan sehari – hari atau kejadian – kejadian yang bergejolak di masyarakat. Dalam cita dan langkah yang melaju ia belum lepas sama sekali dengan unsur sastra lama. Dalam karyanya masih tertuang bentuk lama yaitu “syair”, walaupun dalam isi ia telah menampakkan nafas baru. Dapat dikatakan bahwa satu kakinya menginjak pada zaman baru, namun yang sebelah lagi tercampak pada zaman lama.

Riwayat Hidup Abdullah :
Dalam dirinya mengalir darah campuran antara Melayu – Arab – Keling. Dikatakan demikian karena kakeknya keturunan Arab, Ibunya dari keturunan Keling. Ia lahir di Malaka tahun 1796 dan meninggal di Jedah (Arab) pada tahun 1854 (dalam usia 58 tahun). Sejak kecil pendidikannya diserahkan oleh ayahnya kepada kakeknya. Dibawah asuhan kakeknyalah bakatnya berkembang. Mulailah tumbuh dengan subur benih – benih kepengarangan yang tertanam dalam dirinya.

Masa Kesusastraan Baru

1. Angkatan Balai Pustaka
Sejarah berdirinya :
Pada tahun 1908 pemerintah Belanda mendirikan sebuah badan yang bernama : COMMISIE VOOR DE VOLK SLECTUUR (Komisi Bacaan Rakyat). Badan ini diketuai oleh Prof. G.A.Y. Hazcu dengan Sekretaris Dr. Rinkes. Badan ini mempunyai anggota 6 orang. Karena makin lama tugas badan ini makin banyak, maka pada tahun 1917 badan ini diganti namanya dengan Balai Pustaka.

Para Pengarang Angkatan Balai Pustaka
1) I Gusti Nyoman Panji Tisna (A.A Panji Tisna)
2) M.R. Dayoh (Marius Ramis Dayoh)
3) Sutomo Jauhar Arifia
4) Marari Siregar
5) Marah Rusli
6) Abdul Muis
7) Jamaludin Malik (dengan nama samaran : Adinegoro)
8) Nur Sutan Iskandar (N. St. Iskandar)
9) Muhammad Kasim
10) Suman Hasibuan (Suman Hs.)
11) Aman Datuk Majoindo
12) Hamka (Haji Abdul Malik Karim Amrullah)
13) Sa’adah Alim
14) Fatimah Hasan Delais
15) Sariamin
16) Paulus Supit
17) L. Wairata
18) H. S. D. (Haji Said Daeng) Muntu

2. Angkatan Pujangga Baru
Pengertian Pujangga Baru :
Mengenai istilah Pujangga Baru ada 2 macam, yaitu :
1) Nama majalah yang khusus membicarakan masalah sastra dan kesustraan Indonesia.
2) Nama suatu angkatan / kelompok pengarang yang muncul sekitar tahun 1933 – 1945.

Para pelopor Pujangga Baru
1. Prof. Dr. STA (Sutan Takdir Alisyahbana)
2. Armiyn Pane
3. Sanusi Pane
4. Amir Hamzah

Faktor pendorong timbulnya Pujangga Baru
1) Adanya syarat yang berat dari Balai Pustaka
2) Hasrat yang keras dari para pelopor Pujangga Baru untuk menghimpun diri.
3) Pengaruh Angkatan ’80 di Negeri Belanda.

Pengertian Angkatan ‘80
Angkatan ’80 adalah suatu yang muncul tahun 1880 di Negeri Belanda yang dipelopori oleh : Willem Kloos, Lodewyk Van Deyssel, Federik Van Eeden dan Albert Verwey. Mereka menerbitkan sebuah majalah yang bernama De Nieuwe Gids (Pandu Baru) pada tahun 1885 untuk menentang kesustraan pendeta dan kesenian sebelumnya, yang bernafas alon – alon serta dikemudikan oleh pikiran yang berhati – hati. Syair – syairnya bersorak lirik romantik dan umumnya dalam bentuk soneta. Masih terikat oleh jumlah baris sehingga nama – namanya pun menurut jumlah barisnya sebait seperti : distichon, terzina, kwartrain, quin, sextet, septima, oktaf, dan sebagainya. Bentuk – bentuk inilah yang kemudian mempengaruhi pengarang – pengarang Indonesia seperti STA, Armyin Pane yang kemudian memelopori Angkatan Pujangga Baru.

Corak / Karakter karangan Angkatan Pujangga Baru :
1) Tema : pertentangan antara Barat dan Timur (Belanda dan Indonesia)
2) Tendens/tujuan : kenasionalan / kebangsaan.
3) Corak : romantis idealistis
4) Isi karangan : hal – hal yang terjadi di masyarakat.
5) Konsepsi : internasionalistis universil.


Para pelopor angkatan ini mempunyai perbedaan pandangan disamping persamaan dalam karya sastranya.
Perbedaannya :
a. STA : mengagumi / berorientasi pada kebudayaan Barat / Eropa.
b. Armiyn Pane : searah dengan pandangan STA
c. Sanusi Pane : berorientasi ke India dan Indonesia Purba.
d. Amir Hamzah : berpengaruh oleh kebudayaan Islam dan sastra Melayu lama.

Persamaannya :
a. Realistis (memaparkan kenyataan)
b. Romantis (terharu/terpengaruh oleh keindahan)
c. Idealistis (mempunyai ide untuk merombak hal – hal yang dianggapnya kurang baik.

Para Sastrawan Angkatan Pujangga Baru :
1. Prof. Dr. Sutan Takdir Alisyahbana, S.H
2. Armiyn Pane
3. Sanusi Pane
4. Amir Hamzah
5. Rustam Effendi
6. Y. E. Tatenkeng (Yan Engelbert Tatengkeng)
7. Abdul Hadi
8. M. Ali Hasyim
9. Mozasa (Mohamad Zain Saidi)
10. Muhamad Yamin

3. Kesusastraan Masa Jepang
Maret 1942 Jepang menduduki Indonesia. Begitu Jepang menjajah Indonesia, majalah Pujangga Baru dilarang terbit. Sebagai gantinya Jepang mendirikan kantor kebudayaan yang diberi nama Keimin Bunka Shidosho. Kantor ini merupakan alat propaganda Jepang untuk memperkuat posisinya. Setiap karangan yang masuk disensor dengan ketat. Karangan yang diizinkan adalah karangan yang menguntungkan penjajah Jepang.

Syarat – syarat karangan yang boleh terbit :
1) Tidak membahayakan penjajah Jepang
2) Dapat dijadikan alat propaganda
3) Dapat membangkitkan semangat pengabdian kepada Jepang.

Corak / karakter karangan zaman Jepang :
1) Bentuk dan isi masih bernafas Pujangga Baru.
2) Individualistis.
3) Ekspresionaistis.
4) Simbolis.

Para Sastrawan Angkatan Jepang :
1. Dokter Abu Hanifah
2. Usmar Ismail
3. Rosihan Anwar
4. Amal Hamzah
5. Maria Amin

4. Angkatan ‘45
Riwayatnya :
Sebenarnya setelah masuknya Jepang, Angkatan ’45 telah muncul sebagai akibat penindasan, janji – janji yang kosong dari penjajah Jepang, hal inilah menimbulkan corak kesusastraan baru. Setelah Indonesia merdeka, untuk memajukan kebudayaan pada umumnya serta seni dan sastra pada khususnya maka pada tanggal 19-11-1945 didirikanlah suatu organisasi sastrawan yang diberi nama : Gelanggang, dengan para anggota :
1) Khairil Anwar
2) Rivai Avin
3) Mkhtar Apin
4) Baharudin
5) M. Akbar Juhana
6) Henk Ngantung


Tujuan organisasi ini adalah untuk menciptakan manusia indonesia yang dapat menyesuaikan diri atau dapat menghadapi dunia dalam zaman atom (dunia modern). Kemudian organisasi Gelanggang inilah yang menjelma menjadi Angkatan ’45. Nama ini dicetuskan pertama kali oleh Rosihan Anwar dalam majalah siasat, 9-1-1949 dengan alasan :
Tahun 1945 merupakan tahun yang tak terlupakan oleh bangsa Indonesia. Tahun ini merupakan tahun yang mulia dimana kemerdekaan Indonesia tergores dengan tinta emas dalam lembaran sejarah.
Gagasan ini mendapat tantangan dari sastrawan yang lain dengan argumentasi :
Tahun 1945 dalah tahun yang penuh kekejaman, pertumpahan darah serta peristiwa lain yang mengerikan.
Namun setelah melalui diskusi yang cukup hangat akhirnya disetujui pula nama ini. Adapun titik berat perhatian angkatan ini adalah “Kebudayaan Dunia Yang Universil”. Menurut mereka seniman – seniman itu adalah manusia universil yang muncul dengan corak Indonesia.

Corak Karangan ’45 :
1) Individualistis
2) Ekspresionistis
3) Realistis
4) Humanisme Universil.

Penjelasan :
Individualistis = bersifat menonjolkan individu / perse- orangan / penonjolan pribadi.
Ekspresionistis = mengandung curahan perasaan.
Realistis = bersifat relis / nyata.
Humanisme Universil = kata ini berasal dari kata ‘Humanity’ yang berarti kemanusiaan maksudnya menolak penindasan dari suatu bangsa terhadap bangsa lain. Dia menginginkan kebebasan dalam melahirkan isi hati / dalam mencipta. Janganlah seniman itu dijadikan alat politik. Kemanusian atau kebebasan yang diinginkan bukan hanya untuk orang – orang Indonesia namun untuk seluruh manusia yang ada di bawah kolong langit ini. Jadi humanisme universil artinya kemanusiaan yang berlaku bagi seluruh dunia.

Nama – nama lain yang pernah diusulkan untuk nama Angkatan ’45 :
1) Angkatan Kemerdekaan
2) Angkatan Pembebasan
3) Angkatan Perang
4) Angkatan sesudah perang
5) Angkatan sesudah Pujangga Baru
6) Angkatan Khairil Anwar
7) Angkatan Gelanggang.


Pelopor Angkatan ’45 :
1) Khairil Anwar
Beliau pelopor puisi angkatan ’45. Lahir di Medan, 26-7-1922. Pendidikan : MULO di Medan, kemudian pindah ke Jakarta. Meninggal di Jakarta, 28 April 1949 (dalam usia 27 tahun).
Ciptaannya :
a. Deru Campur Debu (kumpulan sajak, pembangunan 1949)
b. Kerikil Tajam dan Yang Terempas dan Yang Putus (Pustaka Rakyat, 1949)
c. Tiga Menguak Takdir (kumpulan sajak bersama Rivai Apin, Asrul Sani, BP 1950)
d. Pulanglah Si Anak Hilang (terjemahan dari Le Retour de L Enfant Prodigue karya Andre Gide, PR 1948)
e. Kena Gempur (terjemahan dari sebuah buku karangan John Steinbeck, BP 1951).
2) Idrus (pelopor dalam bidang prosa)

Para pengarang Angkatan ’45 yang lain :
1. Asrul Sani
2. Rivai Apin
3. Akhidiat Karta Miharja
4. Aoh kartahadimaja
5. Pramudya Ananta Tur
6. Sitor Situmorang
7. Ida Nasution
8. ST. Nuraini (Siti Nuraini)
9. Waluyati.

5. Angkatan ‘66
Latar Belakang timbulnya Angkatan ’66 :
Kalau kita telusuri perkembangan kesusastraan masa lalu maka akan tampak bahwa protes – protes sosial dari para sastrawan sebenarnya jauh sebelum meletusnya Gerakan Tiga Puluh September (G. 30 S/PKI), telah banyak kita jumpai. Dengan kata lain protes terhadap kecerobohan politik, penyalahgunaan kekuasaan dan penyelewengan telah lama dilancarkan. Jadi angkatan ’66 lahir dari pergolakan politik, kegoncangan – kegoncangan, penyelewengan yang terjadi pada waktu itu. Jadi kehadirannya adalah suatu peristiwa politik. Namun disamping ukuran politik ia pun mempunyai nilai dalam bidang kesusastraan. Ia anti tirani (kesewenang – wenangan), ingin menegakkan keadilan dan kebenaran.

Corak Angkatan ’66 :
1) Isinya : protes sosial dan politik
2) Konsepsinya : Pancasila.



Para Sastrawan Angkatan ‘66
1) W.S Rendra (Willibrodus Surendra Rendra)
2) Motinggo Busya
3) Gunawan Muhamad
4) Arifin C. Noor
5) Taufik Ismail
6) S.M. Ardan
7) Nh. Dini
8) Umar Khayam
9) Nugroho Notosusanto
10) Iwan Situmorang
11) Toto Sudarto Bakhtiar
12) Ayip Rosidi
13) Trisnoyuwono
14) Trisno Sumarjo
15) Mokhtar Lubis
16) Gerson Poyk
17) M. Poppy Hutagalung
18) Sapardi Joko Damono
19) Bur Rasuanto
20) Abdal Wahid Situmeang
21) Jamil Suherman
22) Satyagraha Hurip Suprobo
23) Yusach Ananda
24) Hartoyo Andang Jaya
Jika Sobat menyukai Artikel di blog ini, Silahkan masukan alamat email sobat pada kotak dibawah untuk berlangganan gratis via email, dengan begitu Sobat akan mendapat kiriman artikel terbaru dari Media Pendidik dan Pendidikan


Artikel Terkait:

1 Komentar
Tweets
Komentar

1 comments:

Anonim mengatakan... Reply

terimakasih, sangat bermanfaat ^^

zhifarabilquisha@yahoo.com

Poskan Komentar

Komentar anda sangat menentukan keberlangsungan blog ini.
Apabila anda tidak punya akun, gunakan anonymous
Apabila anda punya, gunakan Nama/URL
»Nama: diisi dengan nama anda
»»URL: diisi dengan alamat web, alamat email, dsb