Artikel Ilmiah (PENINGKATAN HASIL BELAJAR MENGHARGAI PENINGGALAN TOKOH SEJARAH SISWA KELAS V SD NO. 12 PEMECUTAN MELALUI PENDEKATAN CONTEXTUAL TEACHING AND LEARNING DENGAN BANTUAN LEMBAR KERJA SISWA)





PENINGKATAN HASIL BELAJAR  MENGHARGAI PENINGGALAN TOKOH SEJARAH SISWA KELAS V SD NO. 12 PEMECUTAN
MELALUI PENDEKATAN CONTEXTUAL TEACHING
AND LEARNING DENGAN BANTUAN
LEMBAR KERJA SISWA

Oleh
I Made Mudiartana
Guru SD No. 12 Pemecutan

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar menghargai peningkatan tokoh sejarah siswa kelas V SD No. 12 Pemecutan melalui penerapan pendekatan contextual teaching and learning dengan bantuan LKS. Penelitian ini tergolong penelitian tindakan kelas dengan melibatkan 41 orang siswa sebagai subjek penelitian. Dari analisis diperoleh bahwa terjadi peningkatan aktivitas dan hasil belajar menghargai peninggalan tokoh sejarah siswa kelas V SD No. 12 Pemecutan melalui penerapan pendekatan contextual teaching and learning dari siklus I ke siklus II. Skor rata-rata siklus I = 78,0 dan siklus II = 87,9 serta aktivitas siswa menjadi lebih baik. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa melalui penerapan pendekatan contextual teaching and learning dengan bantuan LKS dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar menghargai peninggalan tokoh sejarah siswa kelas V SD No. 12 Pemecutan.

Kata kunci: pendekatan contextual teaching and learning, aktivitas, hasil belajar menghargai peninggalan tokoh sejarah.

1.      Pendahuluan
Kehidupan berbangsa dan bernegara di Indonesia saat ini banyak mengalami perkembangan dan perubahan sebagai akibat dari perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, seni dan budaya serta berbagai masalah yang dihadapi oleh bangsa Indonesia. Kenyataan ini menuntut adanya perhatian khusus pada dunia pendidikan agar selalu berusaha meningkatkan kualitas pendidikan.
Kurikulum 2004 atau lebih dikenal dengan  Kurikulum Berbasis Komptensi (KBK) telah dilaksanakan secara nasional sejak 2004, pelaksanaan KBK di SD/MI dimaksudkan untuk menghasilkan lulusan menguasai dasar-dasar karakter, kecakapan, keterampilan dan pengetahuan yang memadai, untuk mengembangkan potensi dirinya secara optimal. Sehingga mencapai keberhasilan dalam pendidikan lanjutan atau dalam kehidupan yang selalu berubah (Depdiknas, 2004)
Dengan demikian tuntutan untuk terus memutahirkan pengetahuan sosial menjadi suatu keharusan. Mutu lulusan tidak cukup bila diukur dengan standar lokal saja sebab perubahan global telah sangat besar mempengaruhi ekonomi satu bangsa. Pengembangan kurikulum pengetahuan sosial merespon secara positif berbagai perkembangan informasi ilmu pengetahuan dan teknologi serta tuntutan desentralisasi. Salah satu upaya yang dilakukan untuk meningkatkan kualitas pendidikan, kemampuan guru menciptakan inovasi di dalam pembelajaran.
Pengajaran mata pelajaran pengetahuan sosial yang harus dicapai siswa setelah menyelesaikan pokok bahasan penghargaan peninggalan tokoh sejarah, agar siswa mampu memahami makna menghargai peninggalan tokoh sejarah, semangat persatuan serta nasionalisme.
Dari tujuan yang hendak dicapai tersebut ada beberapa kemampuan dasar yang harus dicapai oleh siswa SD No. 12 Pemecutan setelah pembelajaran selesai. Kemampuan pemahaman terhadap proses-proses yang terjadi dalam menghargai peninggalan tokoh sejarah, baik fisik, sosial, materiil maupun interaksi diantara ketiganya. Kemampuan untuk melihat persamaan, perbedaan yang menekankan pada unsur-unsur terhadap peninggalan daerah tertentu. Untuk mencapai tujuan tersebut diperlukan strategi pembelajaran yang betul-betul dapat mendukung tercapainya tujuan tersebut.
Atas dasar pemikiran tersebut maka tidak ada pilihan lain dalam upaya mengembangkan strategi belajar mengajar yaitu harus diarahkan kepada optimalisasi belajar siswa. Salah satu metode yang sangat mendukung adalah pendekatan contextual teaching and learning dengan bantuan lembar kerja siswa. Dipilihnya pendekatan contextual teaching and learning karena keunggulan ditujukan kepada kelas pemula ditingkat SD kelas V. Keunggulan tersebut, yakni : (1) siswa melakukan hubungan yang bermakna, (2) melakukan kegiatan-kegiatan yang signifikan, (3) belajar diatur sendiri, (4) bekerjasama, (5) berpikir kritis dan kreatif, (6) mengasuh atau memelihara pribadi siswa, (7) mencapai standar yang tinggi, (8) menggunakan penilaian authentik (Johnson, 2002). Disamping itu dengan pendekatan contextual teaching and learning siswa belajar sesuai dengan apa yang ada dilingkungan sehingga belajar menjadi bermakna.
Kenyataan metode pembelajaran yang digunakan selama ini didominasi oleh metode ceramah, yang dalam pelaksanaan ternyata mengakibatkan adanya berbagai masalah. Masalah yang paling mendasar dihadapi adalah kurang optimalnya proses pembelajaran dalam mengaktifkan siswa untuk berpikir, berpartisipasi, sehingga tentu keadaan yang seperti ini akan menyebabkan munculnya permasalahan terhadap rendahnya aktivitas siswa. Ini tampak dengan jelas pada saat proses pembelajaran berlangsung. Dalam hal ini siswa tidak dilibatkan dalam proses pembelajaran, sehingga siswa kurang aktif, kenyataan ini ditunjukkan dari engganya siswa berdiskusi, bertanya, urun pendapat, menjawab pertanyaan-pertanyaan guru maupun temannya. Siswa yang tidak dilibatkan dalam pembelajaran, motivasi belajar siswa menjadi rendah. Rendahnya motivasi belajar siswa dapat diamati dari kurangnya persaingan diantara siswa terhadap permasalahan-permasalahan yang muncul dalam proses pembelajaran. Pada akhirnya prestasi belajar siswa juga akan menjadi rendah. Hal ini dapat diamati dari prestasi belajar siswa, yang terindikasi kedalam tingkat kesulitan belajar dimana banyaknya prestasi belajar dibawah rata-rata kelas dan prestasi belajar dibawah standar.
Berdasarkan latar belakang di atas, fokus kajian dalam penelitian ini adalah : (1) peningkatan hasil belajar menghargai peninggalan tokoh sejarah siswa melalui penerapan pendekatan contextual teaching and learning dengan bantuan lembar kerja siswa, (2) peningkatanaktivitas siswa dalam belajar menghargai peninggalan tokoh sejarah melalui pendekatan contextual teaching and learning dengan bantuan lembar kerja siswa, dan (3) respon siswa terhadap pembelajaran dengan pendekatan contextual teaching and learning dalam pembelajaran menghargai peninggalan tokoh sejarah.
2.      Metode Penelitian
Penelitian ini tergolong penelitian tindakan kelas dengan melibatkan 41 orang siswa kelas V SD No. 12 Pemecutan sebagai subjek penelitian. Penelitian dilakukan dengan dua siklus dan masing-masing siklus terdiri atas empat tahapan, yakni : perencanaan, pelaksanaan, observasi dan refleksi. Indikator keberhasilan yang digunakan dalam penelitian ini adalah : (1) penelitian tindakan kelas ini dikatakan berhasil baik, bila skor rata-rata hasil belajar yang dicapai siswa minimal 70 (70%) dan, (2) terjadi peningkatan aktivitas siswa dalam belajar dari siklus I dan siklus II.
3.      Hasil Penelitian dan Pembahasan
Berdasarkan hasil analisis pada masing-masing siklus menunjukkan peningkatan aktivitas pada kategori baik dan penurunan pada kategori cukup dan kurang. Demikian pula halnya dengan rata-rata hasil belajar siswa dari siklus I ke siklus II terjadi peningkatan sebesar 17,4, yakni dari 60,6 ke 78,0. Dilihat dari respon siswa terhadap pembelajaran, skor yang diperoleh siswa dengan rata-rata sebesar 87,9 dalam kategori sangat baik. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa melalui pendekatan contextual teaching and learning dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa kelas V SD No. 12 Pemecutan dan siswa dapat memberikan respon yang sangat baik terhadap pembelajaran. Hal ini sesuai dengan apa yang dikatakan Zahorik (dalam Depdiknas, 2002: 3-4) bahwa pendekatan kontekstual mendasarkan kecenderungan pemikiran tentang belajar bahwa proses belajar tidak sekedar hanya menghafal tetapi siswa harus mengkontruksikan pengetahuan di benak mereka sendiri. Anak belajar dari mengalami dan mencatat sendiri pola-pola bermakna dari pengetahuan baru, dan bukan diberi begitu saja oleh guru. Oleh karena itu, pengetahuan yang dimiliki seseorang itu terorganisasi dan mencerminkan pemahaman yang mendalam tentang suatu persoalan (Subject matter). Pengetahuan tidak dapat dipisahkan menjadi fakta-fakta atau proporsi yang terpisah tetapi mencerminkan keterampilan yang dapat diterapkan. Anak didik mempunyai tingkatan yang berbeda dalam menyikapi situasi baru. Siswa perlu dibiasakan memecahkan masalah, menemukan sesuatu yang berguna bagi dirinya dan bergelut dengan ide-ide. Proses belajar dapat mengubah struktur otak. Perubahan struktur otak itu berjalan terus seiring dengan perkembangan organisasi pengetahuan dan keterampilan seseorang. Oleh karenanya, perlu dipahami bahwa strategi pemahaman yang salah dan dijalankan terus-menerus akan mempengaruhi struktur otak, yang ada akhirnya mempengaruhi cara seseorang berperilaku sehingga berdampak pada aktivitas dan hasil belajarnya.
Keberhasil penelitian ini juga sesuai dengan filosofi pembelajaran kontekstual yang berakar dari paham progresivisme John dewey (dalam Depdiknas, 2002) bahwa proses belajar akan efektif bila pengetahuan baru diberikan berdasarkan pengalaman atau pengetahuan yang sudah dimiliki siswa sesungguhnya atau merupakan pengalaman nyata. Katz, Howey dan Zipher sebagaimana dikutip Kasihani (2002:3) menyatakan bahwa suatu program pembelajaran bukanlah sekedar merupakan suatu kumpulan mata pelajaran namun lebih dari itu.
Disamping itu, pada pembelajaran dengan menggunakan pendekatan konstektual memungkinkan siswa memperkuat, memperluas, dan menerapkan pengetahuan dan keterampilan akademisnya dalam berbagai latar sekolah dan di luar sekolah untuk memecahkan seluruh persoalan yang ada dalam dunia nyata. Pembelajaran kontekstual terjadi ketika siswa menerapkan dan mengalami apa yang diajarkan dengan mengacu pada masalah-masalah riil yang berasosiasi dengan peranan dan tanggung jawab sebagai anggota keluarga, masyarakat, siswa dan selaku pekerja. Pemebelajaran kontekstual menekankan pada berpikir tingkat tinggi, transfer pengetahuan melalui disiplin ilmu, mengumpulkan, menganalisis, dan mensintesis informasi, data dari berbagai sumber dan sudut pandang.
Dengan memperhatikan aspek-aspek seperti yang telah diuraikan, menunjukkan bahwa pendekatan contextual teaching and learning yang telah dikembangkan dalam pembelajaran sesuai konteks yang dialami siswa dalam kehidupan sehari-hari dalam kegiatan pembelajaran, hampir semua indra siswa terlibat seperti: mata, telinga, dan tangan, hal ini disebabkan karena dalam pembelajaran dibantu dengan melihat secara nyata fenomena yang ada. Dengan menampilkan konteks nyata menggunakan lingkungan dalam pembelajaran, dan disertai dengan memanfaatkan strategi informal siswa dalam memacahkan masalah, kecenderungan sesuai dengan minat siswa. Jika pembelajaran sesuai dengan minat siswa, maka siswa akan termotivasi untuk belajar. Dengan adanya motivasi yang kuat dalam belajar mengakibatkan hasil belajar meningkat.
Demikian pula halnya dengan koponen-komponen pendekatan contextual teaching and learning, yang sangat mendukung perkembangan anak didik. Komponen-komponen tersebut antara lain : (1) konstruktivime; yang beranggapan bahwa pengetahuan dibangun oleh siswa sendiri sedikit demi sedikit, siswa mengkonstruksi pengetahuan sendiri dan memberikan makna melalui pengalaman nyata. Dengan demikian pembelajaran lebih bermakna; (2) menemukan pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh siswa bukan hasil mengingat fakta-fakta, tetapi hasil menemukan sendiri; (3) dalam pembelajaran dipandang sebagai kegiatan untuk mendorong dan menilai kemampuan siswa. Kegiatan bertanya merupakan bagian penting dalam pembelajaran yang berbasis inquiri yaitu menggali informasi dari apa yang sudah diketahui dan mengarahkan perhatian pada aspek yang belum diketahui, dan (4) masyarakat belajar; hasil belajar diperoleh dari kerjasama dengan orang lain, hasil belajar diperoleh dari ‘sharing’ antar teman dan antar kelompok. Semua aspek tersebut ada dalam pembelajaran yang berbasis kontekstual, sehingga pembelajaran terkesan dekat dengan kehidupan siswa sehari-hari (Dahad, 1989).
Dibalik keberhasilan tindakan yang dilakukan, tentunya ada beberapa kendala yang dihadapi dalam penerapan pendekatan contextual teaching and learning, seperti: (1) adanya budaya yang sulit dihilangkan oleh siswa, yakni selalu menunggu apa yang harus dikerjakan siswa, (2) belum terbiasanya belajar bekerjasama antar teman, (3) mengemukakan pendapat sangat sulit dikalangan siswa, (4) budaya bertanya belum menjadi trend di kalangan siswa, dan (5) masalah nyata yang disajikan guru belum tentu cocok untuk semua siswa, karena siswanya sangat heterogen.

4.      Penutup
Berdasarkan analisis dan pembahasan seperti yang telah dipaparkan pada bagian sebelumnya, maka dapat disimpulkan bahwa: (1) terjadi peningkatan aktivitas siswa dalam belajar menghargai peninggalan tokoh sejarah antara siklus I dan siklus II. Dengan demikian, melalui pendekatan contextual teaching and learning dapat meningkatkan aktivitas siswa dalam belajar menghargai peninggalan tokoh sejarah pada siswa kelas V SD No. 12 Pemecutan, (2) terjadi peningkatan hasil belajar menghargai peninggalan tokoh sejarah antara siklus I dan siklus II. Dengan demikian, melalui pendekatan contextual teaching and learning dapat meningkatkan hasil belajar menghargai peninggalan tokoh sejarah pada siswa kelas V SD No. 12 Pemecutan, dan (3) siswa memberikan respon sangat baik terhadap pembelajaran menghargai peninggalan tokoh sejarah dengan menggunakan pendekatan contextual teaching and learning. Dengan demikian dapat disarankan kepada guru IPS di SD yang lain bahwa pendekatan contextual teaching and learning dapat dipakai sebagai salah satu alternatif dalam pembelajaran.

DAFTAR PUSTAKA

Dahar, Ratna Willis. 1989. Teori-Teori Belajar. Bandung: Gelora Aksara Pratama.

Depdiknas. 2002. Pendekatan Kontekstual (Cotextual Teaching and Learning). Jakarta: Direktorat Pendidikan Lanjutan Pertama.

Effendi, Z. Mawardi. 2002. Pengaruh Strategi Pembelajaran dan Sikap Siswa Terhadap IPS pada Pemahaman Konsep di SLTP. Dalam Forum Pendidikan.

______. 1997. Interaksi antara Strategi Pembelajaran, Tingkat Kecerdasan, dan Sikap dalam Menentukan Hasil Belajar IPS di SD. Dalam Forum Pendidikan IKIP Padang. No. 03 Tahun XXII (halaman 261-279).

Hamzah. 2002. Pembelajaran Matematika menurut Teori Belajar Konstruktivisme. Dalam Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan. No. 40. Nopember (halaman 61-75).

Isnawati. 2002. Penerapan Strategi Peta Konsep dalam Pembelajaran Konsep Kelangsungan Hidup Organisme. Dalam Widya Karya Tahun XXII No. 1. April (halaman 20-24)

Kasihani, K., Latief, A., Nurhadi. 2002. Pembelajaran Berbasis CTL (Cotextual Teaching and Learning). Makalah. Disampaikan pada kegiatan sosialisasi CTL untuk Dosen-Dosen UN. Malang: 12 Pebruari 2002

Makmun, Abin Syamsuddin. 2002. Psikologi Kependidikan : Perangkat Sistem Pengajaran Modul. Bandung: Remadja Rosdakarya.

Marmai, O.A.Ungsi. 2002. Pembinaan sikap Belajar Untuk Meningkatkan Mutu Hasil Belajar. Dalam Forum Pendidikan.

Sinambela, T. Ide. 1997. Tes Essay Pemetaan Konsep Sebagai Alat Ukur Dalam Belajar Bermakna. Dalam Jurnal Ilmu Pendidikan. Jilid 4 No. 1, Pebruari (halaman 16-23)

Suastra, I Wayan. 2006. Belajar dan Pembelajaran Sains. Singaraja: Undiksha.

Suparno, Paul. 1997. Filsafat Konstruktivisme Dalam Pendidikan. Yogyakarta: Kanisius.

Jika Sobat menyukai Artikel di blog ini, Silahkan masukan alamat email sobat pada kotak dibawah untuk berlangganan gratis via email, dengan begitu Sobat akan mendapat kiriman artikel terbaru dari Media Pendidik dan Pendidikan


Artikel Terkait:

2 Komentar
Tweets
Komentar

2 comments:

agen bola mengatakan... Reply

Hope this article could be be useful to the public a whole is, as well as the the author himself

Made Mudiartana, S.Pd.SD mengatakan... Reply

@agen bola: Thank's for your visiting my blog.

Poskan Komentar

Komentar anda sangat menentukan keberlangsungan blog ini.
Apabila anda tidak punya akun, gunakan anonymous
Apabila anda punya, gunakan Nama/URL
»Nama: diisi dengan nama anda
»»URL: diisi dengan alamat web, alamat email, dsb