Penelitian Tindakan Kelas (UT-2010)






 BAB I
PENDAHULUAN


1.               Latar Belakang Masalah
Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi semakin pesat. Hal ini dibuktikan dengan semakin canggihnya sarana dan prasarana yang digunakan oleh manusia di muka bumi. Hal ini tidak terlepas dari usaha para guru dalam mengembangkan bakat, minat dan kemampuan melalui pendidikan. Pendidikan merupakan salah satu upaya dalam meningkatkan kualitas hidup manusia, mendewasakan serta merubah perilaku serta meningkatkan kualitas hidup
Pendidikan merupakan suatu fenomena manusia yang sangat kompleks. Karena sifatnya itu pendidikan dapat dilihat dan dijelaskan dari berbagai sudut pandang dimana seseorang mengembangkan kemampuannya. Sikap dan bentuk – bentuk tingkah laku lainnya juga dapat dilihat dalam lingkungan dimana manusia itu hidup. Pendidikan merupakan proses sosial dimana seseorang dihadapkan pada pengaruh lingkungan yang terpilih dan terkontrol sehingga mengalami perkembangan sosial dan individu yang optimal.
Sesuai dengan perubahan paradigma pendidikan, seorang guru SD diharapkan mampu mengembangkan profesinya dengan mengikuti program studi S1 PGSD. Dengan demikian seorang guru akan mampu mengambil keputusan, baik ketika merencanakan maupun melaksanakan pembelajaran, termasuk memecahkan masalah – masalah yang ditemukan dalam kegiatan pembelajaran di sekolah sehingga dapat memperoleh hasil yang maksimal.
Tugas utama seorang guru adalah mendidik, mengajar dan melatih para siswanya agar memiliki kemampuan dan kecerdasan yang lebih baik dari biasanya. Agar mampu melaksanakan tugasnya dengan baik, guru harus mampu mengembangkan diri dalam menguasai materi dan juga mampu dalam melihat dan menilai kinerjanya sendiri. Untuk memiliki kemampuan itu melalui Penelitian Tindakan Kelas (PTK) guru mendapat kesempatan berperan aktif mengembangkan pengetahuan dan keterampilan sendiri, melalui PTK juga diharapkan guru mampu sebagai pekerja yang profesinal dan mampu membuat guru lebih percaya diri untuk mampu menilai dan memperbaiki pembelajaran yang dikelolanya. Dari fenomena itu dituntut bagaimana kreativitas guru dalam memecahkan masalah. Seorang guru dapat mendesain model pembelajaran yang bisa menarik minat siswa untuk belajar, sehingga pembelajaran menjadi bermakna.
Dalam proses pembelajaran ada beberapa masalah yang dihadapi penulis terutama dalam mata pelajaran Matematika dan mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial. Dua masalah tersebut penulis angkat sebagai bahan laporan mengingat data yang penulis peroleh melalui observasi secara kualitas masih sangat rendah yaitu :
1.         Untuk mata pelajaran Matematika khususnya menjumlahkan bilangan dengan satu kali teknik menyimpan, dan mengurangkan bilangan dengan satu kali teknik meminjam, dan penyelesaian soal cerita yang berkaitan dengan penjumlahan dan pengurangan. Dari 47 orang siswa kelas II hanya 21 orang siswa yang berhasil mencapai persentase ketuntasan pembelajaran.
2.         Untuk mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial dari 47 orang siswa hanya 10 orang siswa yang berhasil mencapai persentase ketuntasan pembelaajaran, ini berarti target kurikulum yang dicapai siswa di bawah 100%.

Memperhatikan perolehan hasil observasi tersebut penulis melakukan refleksi diri terhadap hasil perolehan nilai maupun terhadap proses pembelajaran yang telah dilakukan di kelas. Untuk menjawab permasalahan tersebut di atas penulis melakukan perbaikan pembelajaran melalui Penelitian Tindakan Kelas (PTK).


2.               Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang maka dapat dirumuskan masalah sebagai berikut :
1.       Untuk mata pelajaran Matematika :
1.1             Bagaimana meningkatkan pemahaman siswa tentang menjumlahkan bilangan dengan satu kali  teknik menyimpan melalui pemberian contoh?
1.2       Bagaimana meningkatkan pemahaman siswa tentang menyelesaikan soal cerita yang berhubungan dengan penjumlahan bilangan melalui pemberian tugas diskusi kelompok?
1.3           Bagaimana meningkatkan pemahaman siswa tentang mengurangkan bilangan dengan satu kali teknik meminjam melalui pemberian contoh?
1.4           Bagaimana meningkatkan pemahaman siswa tentang menyelesaikan soal cerita yang berhubungan dengan pengurangan bilangan melalui pemberian tugas diskusi?
1.5           Bagaimana meningkatkan pemahaman siswa tentang menyelesaikan soal hitung campuran melalui pemberian contoh dan demonstrasi?
1.6           Bagaimana meningkatkan pemahaman siswa tentang menyelesaikan soal hitung campuran melalui pemberian tugas individu?

2.       Untuk mata pelajaran Pengetahuan Sosial :
2.1      Bagaimana meningkatkan pemahaman siswa tentang pentingnya memelihara koleksi barang berharga melalui pemberian contoh dan diskusi?
2.2      Bagaimana meningkatkan pemahaman siswa tentang menjelaskan cara memelihara koleksi barang keluarga melalui demonstrasi?
2.3      Bagaimana meningkatkan pemahaman siswa tentang menceritakan pengalaman yang menyenangkan dan tidak menyenangkan di rumah melalui demonstrasi?
2.4      Bagaimanaa meningkatkan pemahaman siswa tentang diskusi kelompok tentang pengalaman yang menyenangkan?

3.               Tujuan Perbaikan Pembelajaran
Adapun tujuan perbaikan dalam laporan ini dapat dilaporkan sebagai berikut :
3.1       Mata Pelajaran Eksakta (Matematika)
3.1.1       Siklus I
1.     Meningkatkan pemahaman siswa mengenai menjumlahkan bilangan dengan satu kali teknik menyimpan melalui pemberian contoh.
2.     Meningkatkan pemahaman siswa mengenai menyelesaikan soal cerita yang berhubungan dengan penjumlahan bilangan melalui pemberian tugas diskusi kelompok.
3.     Meningkatkan pemahaman siswa mengenai mengurangkan bilangan dengan satu kali teknik meminjam melalui pemberian contoh.
4.     Meningkatkan pemahaman siswa mengenai menyelesaikan soal cerita yang berhubungan dengan pengurangan bilangan melalui pemberian tugas diskusi.

3.1.2       Siklus II
                                                       1.           Meningkatkan pemahaman siswa mengenai cara menyelesaikan soal hitung campuran melalui pemberian contoh dan demonstrasi.
                                                       2.           Meningkatkan pemahaman siswa mengenai cara menyelesaikan soal hitung campuran melalui pemberian tugas individu.

3.2       Mata Pelajaran Non Eksakta (Pengetahuan Sosial)
3.2.1       Siklus I
1.       Menjelaskan pentingnya memelihara koleksi barang keluarga melalui pemberian contoh dan diskusi.
2.       Menjelaskan cara memelihara koleksi barang keluarga melalui demonstrasi.

3.2.2       Siklus II
                                                             1.        Menceritakan pengalaman yang menyenangkan dan tidak menyenangkan di rumah melalui demonstrasi.
                                                             2.        Diskusi kelompok tentang pengalaman yang menyenangkan.

4.               Manfaat Perbaikan Pembelajaran
Manfaat perbaikan pembelajaran dapat dirinci menjadi manfaat teoritis dan praktis sebagai berikut :
1.       Bagi siswa, dalam pembelajaran penjumlahan dengan teknik menyimpandan pengurangan dengan teknik meminjam dan hitung campuran :
a)        Siswa memahami cara menjumlahkan bilangan dengan menyimpan dan mengurangi bilangan dengan meminjam.
b)       Siswa dapat menyelesaikan soal cerita yang berhubungan dengan penjumlahan dan pengurangan dalam kehidupan sehari-hari.
c)        Siswa memahami cara menyelesaikan soal hitung campuran.
d)       Sedangkan dalam menjelaskan pentingnya memelihara koleksi barang berharga dan menceritakan pengalaman yang menyenangkan dan tidak menyenangkan, sebagai berikut :
e)        Siswa dapat menjelaskan pentingnya memelihara koleksi barang keluarga.
f)         Siswa dapat menjelaskan cara memelihara koleksi barang keluarga.
g)        Siswa dapat menceritakan peristiwa menyenangkan dan tidak menyenangkan yang pernah mereka alami di rumah.
h)        Siswa mampu berdiskusi tentang pengalaman yang menyenangkan.

2.       Bagi  guru
Dapat dipakai sebagai acuan untuk memperbaiki pembelajaran mengenai konsep – konsep yang sulit dimengerti oleh siswa.

3.       Bagi sekolah
Dapat dipakai sebagai acuan untuk meningkatkan kualitas sekolah khususnya dalam perolehan prestasi belajar dan penguasaan keterampilan.


BAB II
KAJIAN PUSTAKA

2.1       Karakteristik Siswa Sekolah Dasar
Ada beberapa karakteristik anak di usia sekolah dasar yang perlu diketahui para guru, agar lebih mengetahui keadaan peserta didik khususnya di tingkat sekolah dasar. Sebagai guru harus dapat menerapkan metode pengajaran yang sesuai dengan keadaan siswanya, maka sangatlah penting bagi seorang pendidik mengetahui karakteristik siswanya. Karakteristik yang pertama adalah anak sekolah dasar senang bermain. Karakteristik ini menuntut guru untuk melaksanakan kegiatan pendidikan yang bermuata permainan lebih-lebih untuk kelas rendah. Guru SD seyogyanya merancang model pembelajaran yang memungkinkan adanya unsur bermain di dalamnya. Guru hendaknya mengembangkan model pembelajaran yang serius tapi santai. Penyusunan jadwal pelajaran sebaiknya diselang-selingi antara pelajaran serius dengan pelajaran yang mengandung unsur permainan.
Karakteristik yang kedua adalah anak SD senang bergerak. Orang dewasa dapat duduk berjam-jam, sedangkan anak SD dapat duduk dengan tenang paling lama 35 menit. Oleh karena itu, guru hendaknya merancang model pembelajaran yang memungkinkan anak berpindah atau bergerak. Menyuruh anak untuk duduk rapi untuk jangka waktu yang lama, dirasakan anak sebagai siksaan.
Karakteristik yang ketiga adalah anak SD lebih senang bekerja dalam kelompok. Dari pergaulan dengan kelompok sebaya, anak belajar aspek-aspek yang penting dalam proses sosialisasi, seperti : belajar memenuhi aturan-aturan kelompok, belajar setia kawan, belajar tidak tergantung pada diterimanya di lingkungan, belajar menerima tanggung jawab, belajar bersaing dengan orang lain secara sehat (sportif), memppelajari olahraga dan membawa implikasi bahwa guru harus merancang model pembelajaran yang memungkinkan anak untuk bekerja atau belajar dalam kelompok, serta belajar keadilan dan demokrasi. Karakteristik ini membawa implikasi bahwa guru harus merancang model pembelajaran yang memungkinkan anak untuk bekerja atau belajar dalam kelompok. Guru dapat meminta siswa untuk membentuk kelompok kecil dengan anggota 4-5 orang untuk mempelajari atau menyelesaikan suatu tugas secara kelompok.
Karakteristik yang keempat anak SD adalah senang merasakan atau melakukan/memperagakan sesuatu secara langsung. Ditinjau dari teori perkembangan kognitif, anak SD memasuki tahap operasional kongkret. Dari apa yang dipelajari di sekolah, ia belajar menghubungkan konsep-konsep baru dengan konsep-konsep lama. Berdasar pengalaman ini, siswa membentuk konsep-konsep tentang angka, ruang, waktu, fungsi-fungsi badan, jenis kelamin, moral, dan sebagainya. Bagi anak SD, penjelasan guru tentang materi pelajaran akan lebih dipahami jika anak melaksanakan sendiri, sama halnya dengan memberi contoh bagi orang dewasa. Dengan demikian guru hendaknya merancang model pembelajaran yang memungkinkan anak terlibat langsung dalam proses pembelajaran. Sebagai contoh anak akan lebih memahami tentang arah mata angin, dengan cara membawa anak langsung keluar kelas, kemudian menunjuk langsung setiap arah mata angin, bahkan dengan sedikit menjulurkan lidah akan diketahui secara persis dari arah mana angin saat itu bertiup.
Disamping memperhatikan karakteristik anak usia SD, implikasi pendidikan dapat juga bertolak dari kebutuhan peserta didik. Pemaknaan kebutuhan SD dapat diidentifikasi dari tugas-tugas perkembangannya. Tugas-tugas perkembangan adalah tugas-tugas yang muncul pada saat atau suatu periode tertentu dari kehidupan individu, yang jika berhasil akan menimbulkan rasa bahagia dan membawa arah keberhasilan dalam melaksanakan tugas-tugas berikutnya, sementara kegagalan dalam melaksanakan tugas tersebut menimbulkan rasa tidak bahagia, ditolak oleh masyarakat dan kesulitan dalam menghadapi tugas-tugas berikutnya.
Tugas-tugas perkembangan yang bersumber dari kematangan fisik diantaranya adalah belajar berjalan, belajar melempar, menangkap, dan menendang bola, belajar menerima jenis kelamin yang berbeda dengan dirinya. Beberapa tugas perkembangan terutama bersumber dari kebudayaan seperti belajar membaca, menulis dan berhitung, belajar bertanggung jawab sebagai warga negara. Sementara tugas-tugas perkembangan yang bersumber dari nilai-nilai kepribadian individu diantaranya memilih dan mempersiapkan untuk bekerja, memperoleh nilai filsafat dalam kehidupan. Anak usia SD ditandai oleh tiga dorongan keluar yang besar yaitu: (1) kepercayaan anak untuk keluar rumah dan masuk dalam kelompok sebaya, (2) kepercayaan anak memasuki dunia permainan dan kegiatan yang memerlukan keterampilan fisik, dan (3) kepercayaan mental untuk memasuki dunia konsep, logika, simbolis, dan komunikasi orang dewasa.
Dengan demikian pemahaman terhadap karakteristik peserta didik dan tugas-tugas perkembangan anak SD dapat dijadikan titik awal untuk menentukan tujuan pendidikan di SD, dan untuk menentukan waktu yang tepat dalam memberikan pendidikan sesuai dengan kebutuhan perkembangan anak itu sendiri.
Mengacu pada karakteristik perkembangan dan kebutuhan anak SD di atas, maka secara umum terdapat empat karakteristik anak SD yang memiliki korelasi positif dalam PTK yang penulis lakukan yaitu: (1) karakteristik pertama, anak SD adalah senang bermain. Karakteristik ini membuat guru merancang model pembelajaran yang memungkinkan adanya unsur permainan di dalamnya, (2) anak usia SD senang bergerak. Konsekuensi dari karakteristik ini adalah guru hendaknya merancang model pembelajaran yang memungkinkan anak berpindah dan bergerak, (3) karakteristik ketiga ialah anak usia SD senang bekerja dalam kelompok. Karakteristik ini membawa implikasi bahwa guru harus merancang model pembelajaran yang memungkinkan anak untuk bekerja atau belajar dalam kelompok, (4) aak usia SD senang merasakan atau melakukan/memperagakan sesuatu secara langsung. Dengan demikian guru hendaknya merancang model pembelajaran yang memungkinkan anak terlibat langsung dalam pembelajaran. Guru dituntut menggunakan metode serta multi metode yang mengajak siswa terlibat secara aktif dalam pembelajaran. Disamping itu, peran media konkret juga menjadi pusat perhatian guru (Sumantri, Syaodih, 2005:6.3).

2.2       Pembelajaran  Matematika di Sekolah Dasar
Matematika sebagai pelajaran struktur, setiap konsep matematika akan dapat dipahami dengan baik oleh siswa apabila disajikan dalam bentuk konkret dan beragam. Anak – anak menyenangi matematika kalau disajikan dalam bentuk yang menarik (Xoltan P. Dienes).
Ernest (dalam Waluyo, dkk, 2001 : 6) mengemukakan bahwa filsafat konstruktivis sosial memandang kebenaran matematika tidak bersifat absolut dan mengidentifikasi matematika sebagai hasil dari pemecahan masalah dan pengajuan masalah oleh manusia. Dengan demikian, matematika tumbuh dan berkembang karena manusia mempunyai masalah. Banyak konsep matematika digali dari kehidupan sehari – hari dan konsep – konsep itu dikembangkan agar dapat digunakan untuk memecahkan masalah sehari – hari.
Siswa sekolah dasar yang umumnya berumur 6 sampai 12 tahun, berada pada tahap perkembangan berpikir operasional konkret. Pandangan ini sesuai dengan pendapat Jean Piaget mengenai tahap perkembangan mental anak. Menurut Piaget ada empat tahap perkembangan anak, antara lain : tahap Sensorik Motorik (umur 2 tahun), tahap Praoperasional (umur 2-7 tahun), tahap Operasional Kongkret (umur 7-11 tahun), dan tahap Operasional Formal (11 tahun ke atas). Bertolak dari keempat tahap perkembangan anak tersebut di atas, anak sekolah dasar masih berada pada tahap Praoperasional dan tahap Operasional Kongkret (Sunarto dan Ny. Agung Hartono, 1994). Ciri khas masa Praoperasional adalah kemampuan anak menggunakan suatu simbol berupa alat peraga yang mewaikili suatu konsep. Sedangkan pada tahap Operasional Konkret, anak – anak umumnya telah memahami operasi logis dengan bantuan benda – benda konkret.
Dari pendapat tersebut, maka dalam penyampaian materi matematika, guru hendaknya menyesuaikan dengan karakteristik siswa sekolah dasar yaitu dengan menggunakan benda – benda yang nyata (kongkret) terutama yang sering ditemukan atau digunakan oleh siswa dalam kehidupan sehari – hari.
Benda – benda akrab dimaksud adalah benda – benda konkret yang biasa atau sering ditemukan siswa dalam kehidupan sehari – hari baik di lingkungan sekolah maupun di luar sekolah. Bonatto (dalam Djoko Waluyo, dkk, 2001 : 8) mengatakan bahwa membawa situasi – situasi dunia nyata ke dalam matematika sekolah dasar adalah perlu meskipun belum cukup untuk menumbuh kembangkan sikap positif terhadap matematika, yang diharapkan dapat menjadi inspirasi untuk memahami dan menginterpretasi realitas, dan sebagai aktifitas berpikir yang menarik. Hal tersebut di atas dapat dicapai bila guru berhasil membawa siswa menggunakan matematika ke dalam realitas.
Sehubugan dengan hal ini Price. J (dalam Waluyo, dkk, 2001 : 10) mengatakan bahwa, dengan mengaitkan matematika ke dunia nyata, siswa dapat mengaplikasikan matematika yang mereka pelajari di kelas ke dunia nyata. Dengan mengaitkan matematika dengan disiplin ilmu yang lain, siswa dapat melihat banyak hal – hal yang tergantung pada matematika. Salah satu cara agar siswa berkeinginan dengan matematika yang diajarkan adalah dengan melibatkan lingkungan siswa secara aktif dalam proses belajar di kelas.
Bentuk pengajaran dengan melibatkan benda – benda yang akrab dengan siswa dan situasi dunia nyata, akan lebih menyenangkan bahkan anak – anak dapat melihat langsung bagaimana hubungan benda – benda konkret dan situasi dunia nyata dengan konsep yang diajarkan. Dengan melibatkan siswa secara langsung pada objek pembelajaran seperti pemanfaatan lingkungan sebagai sumber belajar maka konsep – konsep pembelajaran matematika akan dapat dipahami oleh siswa.
Konsep – konsep matematika yang mesti dipahami oleh siswa sekolah dasar meliputi : (1) sifat – sifat operasi hitung bilangan, (2) faktor dan kelipatan, (3) pengukuran sudut, panjang dan berat, (4) keliling dan luas bangun datar sederhana, (5) penjumlahan dan pengurangan bilangan bulat, (6) pecahan, (7) lambang bilangan romawi, (8) bangun ruang sederhana dan hubungan antar bangun datar (BSNP : 2006)

2.3       Pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial di Sekolah Dasar
Panitia Seminar Nasional Civic Education, 1972 : 2 (dalam Winataputra, 1978 : 42) menyebutkan istilah Ilmu Pengetahuan Sosial diartikan sebagai suatu studi masalah – masalah sosial yang dipilih dan diukembangkan menggunakan pendekatan iterdisipliner dan bertujuan agar masalah – masalah sosial itu dapat dipahami siswa. dengan demikian para siswa akan dapat menghadapi dan memecahkan masalah sosial sehari – hari. Di samping itu tujuan pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial di sekolah dasar adalah untuk memberikan bekal kemampuan dan sikap rasional yang bertanggung jawab dalam menghadapi gejala alam dan kehidupan di muka bumi serta permasalahannya yang timbul akibat interaksi antara manusia dengan lingkungannya (Depdikbud, 1993 : 30)
Krisis global yang terjadi pada saat ini merupkan dampak dari kehidupan yang berlaku menitik beratkan pada metode ilmiah dan pikiran rasional (Capra, 1998 : 34-36). Merujuk pula pada pandangan Capra, kita harus meninggalkan paradigma berpikir ilmiah sehingga kita tidak lagi agresif, ekspansif, dan kompetitif, akan tetapi kita juga perlu secara proporsional menggunakan paradigma berwawasan intuitif dan bersifat sintetis serta sadar lingkungan. Yang perlu dicatat adalah bahwa dalam kehidupan ini selalu ada saling ketergantungan, dimana satu persoalan yang timbul tidaklah mungkin berdiri sendiri.
Manusia secara aktif merupakan faktor dominan yang mampu memanipulasi dan memodifikasi habitatnya (lingkungan sekitarnya). Manusia tidak bisa lepas dari pengaruh lingkungan alam. Manusia sering tidak menyadari fungsinya terhadap lingkungan, tidak memperhatikan kelestarian lingkungan akan menimbulkan mala petaka bagi kelangsungan kehidupannya, seperti yang dikemukakan oleh Winataputra (2005 : 3.3-3.14) bahwa, pada saat terjadinya kemerosotan kualitas lingkungan dapat menimbulkan terjadinya mutasi gen manusia terselubung, hujan asam, dampak rumah kaca, penipisan lapisan ozon dan bencana lainnya yang akan menyengsarakan manusia. Untuk itu manusia harus benar – benar mampu menjaga kelestarian lingkungan karena sangat bermanfaat bagi kehidupannya. Dalam UU No. 23 Tahun 1997, ps 1 dan 2 disebutkan : pemanfaatan dan penataan lingkungan hidup dapat diartikan sebagai upaya untuk mendayagunakan sumber daya untuk kepentingan kehidupan dan kegiatan pembangunan yang berwawasan lingkungan adalah : pemeliharaan, pengendalian, pengawasan, pemulihan dan pengembangan, dan pencegahan atau penanggulangan dampak yang ditimbulkan.
Hal lain yang perlu disadari adalah bahwa semua manusia mempunyai hak yang sama atas lingkungan hidup yang baik dan sehat. Oleh sebab itu setiap orang mempunyai kewajiban yang sama pula untuk memelihara lingkungan hidup dari kerusakan dan pencemaran yang merugikan kehidupan di muka bumi.  Kewajiban memelihara atau mengelola tersebu di atur dalam bentuk keharusan (Mandatory) yang ditetapkan dengan peraturan perundang – undangan atau dilakukan secara sukarela (Voluntary) melalui konsep – konsep pengelolaan yang disetujui bersama (Darmakusuma).
Dari pendapat tersebut di atas, dapat dilihat bahwa masalah – masalah sosial dapat menimbulkan krisis global yang dapat mencelakakan manusia seperti : mutasi gen terselubung, hujan asam, dampak rumah kaca dan bencana lainnya. Untuk itu kita perlu memberikan pemahaman tentang hak dan kewajiban selaku manusia tehadap lingkungan.

2.4       Pemanfaatan Media dalam Pembelajaran di Sekolah Dasar
Salah satu karakteristik matematika memiliki objek kajian abstrak. Mengingat matematika bersifat abstrak maka konsep – konsep matematika dipelajari menurut tahap – tahap bertingkat seperti halnya dengan tahap perkembangan mental yang dikemukakan J. Bruner melalui tiga tahap seperti yang dikutip oleh Russeffendi yaitu :
1.        Enactive (Kongkret)
       Dalam tahap ini anak – anak di dalam belajarnya menggunakan atau memanipulasi obyek – obyek secara langsung.
2.        Ikonik (Semi kongkret)
       Menyatakan bahwa kegiatan anak – anak menyangkut mental yang merupakan gambaran dari obyek – obyek. Dalam tahap ini anak sudah dapat memanipulasi obyek – obyek dengan menggunakan gambaran dari obyek (Semi kongkret).
3.        Symbolic (Abstrak) tidak lagi memanipulasi obyek – obyek secara langsung.
(Russeffendi, 1992 ; 109.110)

Jelaslah bahwa anak sekolah dasar belum mampu memahami tingkat simbolik tanpa lewat enactive dan ikonic. Oleh karenanya alat peraga (media pembelajaran) dipandang sebagai kebutuhan pokok dalam pelajaran matematika. Namun perlu digaris bawahi bahwa jangan sampai terpaku pada hal – hal yang kongkret saja. Sehingga lupa mengembangkan sampai tingkat simbolik mengingat matematika bersifat abstrak, belajar matematika haruslah sampai kepada pemahaman yang abstrak itu. Obyek – obyek matematika yang abstrak membawa konsekuensi bahwa guru haruslah senantiasa menyesuaikan tingkat keabstrakan materinya dengan kondisi siswa.
Selama ini, media mengajar yang paling dekat dan digunakan oleh guru adalah papan tulis. Papan tulis dapat diterima di mana – mana sebagai alat peraga yang efektif. Namun pemakaian papan tulis tidak memungkinkan guru menjelaskan sesuatu secara rinci, dan media tersebut tidak dapat menjawab kebutuhan kita dalam memberikan pengertian yang lebih mendalam kepada anak didik. Papan tulis juga tidak dapat dipergunakan untuk memberikan motivasi dan merangsang imajinasi anak didik. Untuk itu dipandang perlu adanya media sederhana dan didukung oleh beberapa alasan yaitu :
1.        Penggunaan media yang sesuai dengan materi pelajaran dan karakteristik siswa akan mampu memberikan suatu pengalaman baru yang bisa mengubah perilaku (pengetahuan, nilai – nilai atau suatu keterampilan) melalui aktivitas kegiatan sendiri.

2.        Optimalisasi panca indra anak dalam belajar. Pemanfaatan indra pendengaran saja dalam belajar tidak akan dapat mengoptimalkan potensi siswa. hasil penelitian para ahli membuktikan bahwa 11% pengetahuan diperoleh dari pendengaran dan 83% dari pengelihatan. Sedangkan 20% kemampuan daya ingat seseorang, diperoleh dari penggunaan pendengaran dan 50% dari apa yang dilihat. Melalui mendengar, anak didik mengikuti peristiwa demi peristiwa dan ikut merasakan apa yang disampaikan. Hanya 20% dari yang didengar dapat diingat dikemudian hari. Dan 50% yang didengar dapat diingat jika penjelasan guru dilengkapi dengan gambar, simulasi, latihan, dan praktek.

3.        Mampu merangsang imajinasi anak dan memberikan kesan yang dalam jika diciptakan dan digunakan secara seimbang dan sesuai dengan materi pelajaran.
Dari uraian di atas dapat dilihat kalau media pembelajaran sangat berpengaruh pada kemampuan siswa dalam meningkatkan pemahaman suatu konsep.
Dalam pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial, media pembelajaran yang paling sering digunakan adalah gambar – gambar seperti gambar pahlawan, kenampakan alam, peristiwa alam, dan sebagainya. Agar pembelajaran dapat dilaksanakan lebih menarik dapat dilakukan dengan menggunakan media lingkungan yaitu dengan mengajak siswa datang dan mengamati secara langsung suatu objek. Dalam hal ini metode yang digunakan adalah metode karya wisata, metode karya wisata merupakan suatu cara mengajar yang dilaksanakan dengan menugaskan siswa secara keseluruhan untuk mengunjungi suatu objek, serta memperhatikan suatu objek sesuai program yang disusun sebelumnya (Depdikbud 1996).
Alasan utama mengapa lingkungan dapat digunakan sebagai media pembelajaran adalah ketersediannya yang tidak terbatas di manapun siswa berada. Lingkungan mampu menyajikan berbagai kebutuhan siswa untuk belajar. Negara kita sangat kaya dengan lingkungan yang mampu menjadikan orang menjadi pandai, kreatif, dan memiliki etika tinggi. Pemanfaatan lingkungan akan memudahkan siswa dalam menyerap materi pelajaran; memanfaatkan sumber belajar di daerah; mengenalkan siswa terhadap kondisi daerah; meningkatkan pengetahuan siswa mengenai daerahnya; membantu siswa dan orang tuanya dalam memenuhi kebutuhan hidup; memecahkan masalah yang terjadi di sekeliling siswa; dan mengakrabkan siswa dengan lingkungannya.
Dengan memanfaatkan lingkungan sebagai media pembelajaran diharapkan siswa mampu mengembangkan serta melestarikan sumber daya alam, meningkatkan kualitas sumber daya manusia dan kebudayaan daerah. Semua itu diharapkan akan dapat memacu pembangunan daerah sesuai dengan karakteristiknya, yang selanjutnya menunjang kemampuan pembangunan nasional.
Ada beberapa jenis media yang dapat digunakan dalam proses pembelajaran. Menurut Anderson (dalam Rahardi, 2003) media dikelompokkan menjadi 10 golongan seperti digambarkan dalam tabel 2.1 berikut :
Tabel 2.1 : Pengelompokan media menurut Anderson
No.

Golongan Media

Contoh dalam pembelajaran
I
Audio
Kaset audio, siaran audio, CD, telepon
II
Cetak
Buku pelajaran, modul, brosur, gambar
III
Audio – Cetak
Kaset audio yang dilengkapi dengan bahan tertulis
IV
Proyeksi Visual Diam
Overhead transparansi (OHT), film bingkai (slide)
V
Proyeksi Audio Visual Diam
Film bingkai (slide) bersuara
VI
Visual Gerak
Film bisu
VII
Audio Visual Gerak
Film gerak bersuara, video/VCD, televisi
VIII
Obyek Fisik
Benda nyata, model, spesimen
IX
Manusia dan Lingkungan
Guru, pustakawan, laboran
X
Komputer
CAI (pembelajaran berbantuan komputer), CBI (pembelajaran berbasis komputer)
(Rahadi, 2003:21-22)
Dari tabel tersebut dapat diketahui bahwa dalam kegiatan pembelajaran sudah tersedia banyak sekali media yang dapat dipergunakan untuk memudahkan siswa dalam memahami materi yang disajikan, tinggal kebijaksanaan dari pengajar untuk merelevansi media yang ada di sekitar tempat pembelajaran karena pada hakikatnya segala sesuatu yang ada di sekitar kita dapat dijadikan sebagai media pembelajaran.

2.5       Penggunaan Metode Pembelajaran
Metode pembelajaran berarti perencanaan secara menyeluruh untuk menyajikan materi pelajaran secara teratur. Istilah ini bersifat prosedural dalam arti penerapan suatu metode dalam pembelajaran dikerjakan dengan melalui langkah-langkah yanag teratur dan secara bertahap, dimulai dari penyusunan perencanaan pengajaran, penyajian pengajaran, proses belajar mengajar, dan penilaian hasil belajar.
Ada beberapa metode pembelajaran yang terkait dengan perbaikan pembelajaran pada mata pelajaran Matematika dan IPS, yaitu:
1.        Metode Ceramah
Metode ceramah banyak digunakan dalam pembelajara klasikal. Metode ceramah merupakan suatu cara penyajian atau penyampaian secara lisan kepada siswa mengenai konsep dengan menggunakan alat bantu atau gambar (Depdikbud, 1996:107)
2.        Metode Demonstrasi
Metode demonstrasi merupakan metode yang menyajikan bahan ajaran dengan mempertunjukkan secara lagsung objek atau caranya melakukan sesuatu untuk mempertunjukkan proses tertentu. Dalam penerapan metode ini, guru mengusahakan agar sebanyak mungkin siswa ikut terlibat dalam kegiatan pembelajaran.
3.        Metode Diskusi
Metode diskusi merupakan cara mengajar dalam pembahasan dan penyajian materi melalui permasalah yang harus diselesaikan berdasarkan pendapat aau keputusan secara bersama. Metode ini tidak dapat berdiri sendiri namun seringkali digunakan bersama metode-metode yang lain.
4.        Metode Kerja Kelompok
Metode kerja kelompok biasanya digunakan dalam melakukan percobaan sehingga guru diharapkan membagi kelompok yang ideal antara 3 sampai dengan 5 orang serta memiliki kecerdasan yang bervariasi untuk memaksimalkan hasil kerja kelompok. Hal-hal yang harus diperhatikan dalam metode ini adalah: (1) materi yang akan dibahas, (2) sarana dan lingkungan yang sesuai, (3) skenario yang sistematis, (4) membimbing siswa dalam melakukan kerja kelompok agar tujuan yang diinginkan dapat tercapai.
5.          Metode Presentasi
Metode persentasi adalah metode pembelajaran dimana siswa dikondisikan untuk mampu bekerja dalam sebuah kelompok dan hasil kerja kelompok tersebut disusun dalam bentuk sebuah laporan tertulis untuk dipresentasikan di depan kelas.


BAB III
PELAKSANAAN PERBAIKAN


3.1.     Subjek Penelitian (Lokasi, Waktu, Mata Pelajaran, dan Kelas, dan Karakteristik Siswa)
Perbaikan pembelajaran dilaksanakan di kelas II SD No. 9 Padangsambian, Desa Padangsambian, Kecamatan Denpasar Barat, Kota Denpasar.
Jadwal pelaksanaan pembelajaran untuk setiap mata pelajaran adalah sebagai berikut :
1.      Mata Pelajaran Matematika
1.1       Siklus I, tanggal 26 Oktober 2010.
1.2       Siklus II, tanggal 2 November 2010.

2.      Mata Pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial
2.1       Siklus I, tanggal 26 Oktober 2010.
2.2       Siklus II, tanggal 2 November 2010.
Adapun karakteristik siswa kelas II SD No. 9 Padangsambian adalah sebagai berikut :
1.      Dilihat dari pertumbuhan fisiknya tidak jauh berbeda dengan pertumbuhan anak-anak pada umumnya.
2.      Sedangkan dilihat dari perkembangan intelektualnya sangat bervariasi. Dari 47 orang siswa hanya 10 orang siswa yang perkembangannya dapat dikategorikan baik, 18 orang  siswa perkembangan intelektualnya sedang, dan sisanya 19 orang siswa kemampuan intelektualnya masih kurang.

3.2.     Deskripsi PerSiklus  (Rencana, Pelaksanaan, Pengamatan/Pengumpulan Data (Instrumen) dan  Refleksi)
Dalam penelitian tindakan kelas yang dilaksanakan dalam perbaikan pembelajaran ini dilaksanakan dalam dua siklus untuk masing-masing mata pelajaran. Pelaksanaan tindakan untuk masing-masing siklus meliputi empat tahapan yaitu: (1) Perencanaan, (2) Pelaksanaan, (3) Pengamatan, (4) Refleksi.
Keempat tahapan tersebut digambarkan dalam bagan seperti di bawah ini:
Gambar 3.1 Alur Penelitian





 





























(Iskandar, 2009:49)


3.2.1.       Mata Pelajaran Matematika
1.     Siklus I
1.1        Rencana
1.1.1           Meminta kesedian teman sejawat sebagai pengamat.
1.1.2           Mendiskusikan masalah yang ditemukan sebelum tindakan (Pra Siklus).
1.1.3         Secara bersama – sama menyusun Rencana Perbaikan Pembelajaran (terlampir), dan menyepakati waktu pelaksanaan perbaikan pembelajaran Siklus I yaitu tanggal 26 Oktober 2010.
1.1.4         Bersama – sama menyiapkan media pembelajaran dan lembar observasi (terlampir).

1.2       Pelaksanaan
1.2.1       Peneliti mempraktekkan rencana pembelajaran yang disusun sesuai kesepakatan teman sejawat yaitu tanggal 26 Oktober 2010. Pelaksanaan perbaikan ini berlangsung dari awal jam pelajaran dimulai sampai akhir  jam pelajaran.
1.2.2       Teman sejawat mengobservasi proses perbaikan pembelajaran melalui lembar observasi yang telah tersedia. Adapun materi perbaikan pembelajaran Matematika terlampir. Selama peneliti melaksanakan perbaikan-perbaikan, tercatatlah temuan-temuan yang diperolehnya adalah :
1. Ketika peneliti menyampikan pertanyaan yang terkait dengan pembelajaran, siswa kelihatan kurang mantap.
2.   Masih banyak siswa kurang interaktif mendengarkan penjelasan guru.
3. Siswa kurang memahami menjumlahkan bilangan dengan teknik menyimpan dan pengurangan dengan teknik meminjam.

Perhatian guru untuk selanjutnya di dalam pelaksanaan pembelajaran sangat diperlukan yang sungguh-sungguh, agar guru dapat melakukan tindakan yang tepat sesuai dengan tujuan yang diharapkan.
Ketika peneliti menyampaikan pertanyaan yang terkait dengan pembelajaran, siswa kelihatan kurang mantap.
1.    Masih banyak siswa kurang interaktif mendengarkan penjelasan guru.
2.      Siswa kurang memahami menjumlahkan bilangan dengan teknik menyimpan dan pengurangan bilangan dengan teknik meminjam.
Perhatian guru untuk selanjutnya di dalam pelaksanaan pembelajaran sangat diperlukan yang sungguh-sungguh, agar guru dapat melakukan tindakan yang tepat sesuai dengan tujuan yang diharapkan.

1.3       Refleksi
Refleksi dalam Penelitian Tindakan Kelas (PTK) adalah upaya mengkaji apa yang telah dan / atau tidak terjadi, apa yang telah dihasilkan atau yang belum berhasil dituntaskan dengan tindakan perbaikan yang telah dilakukannya. Hasil refleksi itu digunakan untuk menetapkan langkah – langkah lebih lanjut dalam upaya tujuan Penelitian Tindakan Kelas (PTK).
Dengan kata lain, refleksi merupakan pengkajian terhadap keberhasilan atau kegagalan dalam pencapaian tujuan sementara, dan menentukan tindak lanjut untuk siklus II. Dimana antara peneliti dan teman sejawat pada siklus I, akan merefleksikan pelaksanaan proses dan refleksi ini berdasarkan peneliti dan teman sejawat. Ada hal perlu ditindak lanjuti dari observasi teman sejawat.
Hal tersebut didasarkan pada temuan/masalah – masalah pada siklus I. Karena dari 47 siswa, yang mendapat nilai diatas KKM (Kriteria Ketuntasan Minimal) hanya 76,6%, rata – rata kelas hasil belajar mencapai 57,02 dengan siswa yang aktif hanya 36 orang saja. Temuan – temuan ini akan dioptimalkan pada siklus II.

2.      Mata Pelajaran Matematika Siklus II
2.1         Rencana
2.1.1       Bersama teman sejawat mendiskusikan hasil – hasil temuan Siklus I.
2.1.2       Bersama – sama menyusun Rencana Perbaikan Pembelajaran Siklus II dengan menggunakan metode pembelajaran yang bervariatif dan menyepakati waktu pelaksanaan perbaikan pembelajaran yaitu tanggal 2 November 2010.
2.1.3       Menyediakan media pembelajaran yang lebih menarik, dan lebih bervariasi.

2.2         Pelaksanaan
2.2.1       Peneliti mempraktekkan Rencana Perbaikan Pembelajaran dari awal jam pelajaran dimulai sampai jam pelajaran berakhir.
2.2.2   Teman sejawat mengobservasi proses perbaikan pembelajaran melalui lembar observasi yang telah disediakan. Dalam siklus II dengan berpedoman pada catatan siklus I, sudah banyak mengalami perbaikan dalam pembelajaran. Hal masalah – masalah pada siklus I dioptimalkan atau disempurnakan, akhirnya semua siswa bisa menjawab semua pertanyaan, yang diajukan oleh guru. Siswa sudah aktif dan kreatif.
Setidaknya siswa sudah mampu mendengarkan penjelasan guru dengan seksama dan penuh antusias. Berdasarkan hasil yang telah dicapai siswa, terlihat sangat memuaskan dan penuh keyakinan dalam menyelesaikan soal.

2.3         Refleksi
Antara peneliti dan teman sejawat merefeleksikan proses pembelajaran. Dari refleksi ini berdasarkan perasaan peneliti dan teman sejawat ternyata sudah banyak membawa perubahan pada siswa. Hal tersebut dapat dilihat dari perolehan nilai, dimana seluruh siswa mendapat nilai diatas KKM. Dengan nilai hasil rata – rata kelas 67,77 dan siswa yang aktif sudah mencapai 47 orang.
Dengan mengkaji data – data yang didapat sehingga memenuhi kriteria yang diharapkan dan peneliti dapat merefleksikan hasil tindakan pada siklus II dengan sempurna dan dipakai dasar untuk tidak sampai ke Siklus III.

3.2.2.       Mata Pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial 
1.      Siklus I
1.1         Rencana
1.1.1        Peneliti meminta kesediaan teman sejawat sebagai pengamat.
1.1.2        Mendiskusikan masalah yang ditemui pada Pra siklus.
1.1.3        Secara bersama – sama menyusun Rencana Pembelajaran, dan menyepakati waktu pelaksanaan perbaikan pembelajaran Siklus I pada tanggal 26 Oktober 2010.
1.1.4        Bersama – sama menyiapkan media pembelajaran di lembaran observasi (terlampir).

1.2           Pelaksanaan
1.2.1     Peneliti mempraktekkan Rencana Pembelajaran yang disusun sesuai kesepakatan teman sejawat yaitu tanggal 26 Oktober 2010. Pelaksanaan perbaikan ini berlangsung dari awal jam pelajaran dimulai sampai akhir  jam pelajaran.
1.2.2 Teman sejawat mengobservasi proses perbaikan pembelajaran melalui lembar observasi yang telah tersedia. Adapun materi perbaikan pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial terlampir. Selama peneliti melaksanakan perbaikan-perbaikan, tercatatlah temuan-temuan yang diperolehnya adalah :
1. Ketika peneliti menyampikan pertanyaan yang terkait dengan pembelajaran, siswa kelihatan kurang mantap.
2.   Masih banyak siswa kurang interaktif mendengarkan penjelasan guru.
3.   Siswa kurang memahami bagaimana cara memelihara koleksi barang berharga milik keluarga.
Perhatian guru untuk selanjutnya di dalam pelaksanaan pembelajaran sangat diperlukan yang sungguh-sungguh, agar guru dapat melakukan tindakan yang tepat sesuai dengan tujuan yang diharapkan.
Ketika peneliti menyampaikan pertanyaan yang terkait dengan pembelajaran, siswa kelihatan kurang mantap.
                                                                                           1.          Masih banyak siswa kurang interaktif mendengarkan penjelasan guru.
2.          Siswa kurang memahami bagaimana cara memelihara koleksi barang berharga milik keluarga.
Perhatian guru untuk selanjutnya di dalam pelaksanaan pembelajaran sangat diperlukan yang sungguh-sungguh, agar guru dapat melakukan tindakan yang tepat sesuai dengan tujuan yang diharapkan.


1.3           Refleksi
Melakukan refleksi tidak ubahnya seperti berdiri di depan cermin untuk melihat kembali bayangan kita atau memantulkan kembali kejadian yang perlu kita kaji.
Dengan dibantu oleh data observasi dari teman sejawat, guru mencoba merenungkan mengapa satu kejadian berlangsung dan mengapa seperti itu terjadinya. Guru juga mencoba merenungkan mengapa suatu usaha perbaikan pembelajaran berhasil dan mengapa yang lain gagal. Melalui refleksi, guru dapat menetapkan apa yang telah dicapai, serta apa yang belum dicapai melalui data observasi oleh teman sejawat. Serta apa yang perlu diperbaiki dalam pembelajaran berikutnya.
Antara peneliti dan teman sejawat pada siklus I akan merefleksikan pelaksanaan proses dan refleksi ini berdasarkan peneliti dan teman sejawat. Ada hal yang perlu ditindak lanjuti dari observasi teman sejawat.
Hasil tersebut didasarkan pada temuan pada siklus I. Karena hanya dari 47 orang siswa yang mendapat nilai diatas KKM (Kriteria Ketuntasan Minimal) 63,8%. Rata – rata kelas hasil pembelajaran mencapai 60,85 dan siswa yang aktif baru mencapai 30 orang, temuan – temuan ini akan dioptimalkan pada siklus II.

2.   Mata Pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial Siklus II
2.1           Rencana
2.1.1     Bersama teman sejawat mendiskusikan temuan – temuan pada Siklus I.
2.1.2      Secara bersama – sama menyusun rencana pembelajaran Siklus II dan menyepakati waktu pelaksanaan perbaikan pada tanggal 2 November 2010.
2.1.3       Menyediakan media pembelajaran yang lebih menarik dan lebih bervariatif.

2.2           Pelaksanaan
2.2.1     Peneliti mempraktekkan Rencana Perbaikan Pembelajaran dari awal jam pelajaran dimulai sampai jam pelajaran berakhir.
2.2.2     Teman sejawat mengobservasi proses perbaikan pembelajaran melalui lembar observasi yang telah disediakan. Dalam siklus II dengan berpedoman pada catatan siklus I, sudah banyak mengalami perbaikan dalam pembelajaran. Hal masalah – masalah pada siklus I dioptimalkan atau disempurnakan, akhirnya semua siswa bisa menjawab semua pertanyaan, yang diajukan oleh guru. Siswa sudah aktif dan kreatif.
Setidaknya siswa sudah mampu mendengarkan penjelasan guru dengan seksama dan penuh antusias. Berdasarkan hasil yang telah dicapai siswa, terlihat sangat memuaskan dan penuh keyakinan dalam menyelesaikan soal.

2.3           Refleksi
Antara peneliti dan teman sejawat merefeleksikan proses pembelajaran. Dari refleksi ini berdasarkan perasaan peneliti dan teman sejawat ternyata sudah banyak membawa perubahan pada siswa. Hal tersebut dapat dilihat dari perolehan nilai, dimana seluruh siswa mendapat nilai diatas KKM. Dengan nilai hasil rata – rata kelas 68,62 dan siswa yang aktif sudah mencapai 47 orang.
Dengan mengkaji data – data yang didapat sehingga memenuhi kriteria yang diharapkan dan peneliti dapat merefleksikan hasil tindakan pada siklus II dengan sempurna dan dipakai dasar untuk tidak sampai ke Siklus III.




BAB IV
HASIL PERBAIKAN DAN PEMBAHASAN

4.1     Deskripsi Per Siklus
4.1.1   Mata Pelajaran Matematika (Eksakta)
4.1.1.1  Data Rencana
Adapun data yang dapat dikemukakan dalam rencana ini adalah data mengenai kedaan sebelum dilakukan tindakan perbaikan pembelajaran (Data Pra Siklus). Pada data Pra Siklus diperoleh, dari 47 orang siswa hanya 21 orang yang memperoleh nilai di atas KKM (Kriteria Ketuntasan Minimal) dengan persentase ketuntasan 44,7%, dan yang lain di bawah KKM atau secara keseluruhan rata – rata kelas adalah 45,11. Jumlah siswa yang aktif pada data Pra Siklus yaitu 20 orang siswa.

4.1.1.2  Data Pelaksanaan
Mengenai data pelaksanaan dalam laporan ini dapat dijabarkan yaitu data Siklus I dan Siklus II. Dari data Siklus I ke Siklus II dan juga didasarkan pada pertimbangan saran pada Siklus I, baik oleh peneliti maupun teman sejawat. Pada Siklus I, 36 orang mendapat nilai di atas KKM dengan persentase ketuntasan 76,6%, dan dengan rata – rata hasil belajar sebesar 57,02. Jumlah siswa yang aktif pada Siklus I berjumlah 28 orang siswa. Sedangkan pada Siklus II, 47 orang mendapat nilai di atas KKM dengan persentase ketuntasannya 100%, dan dengan rata – rata nilai 67,77. Dan jumlah siswa yang aktif pada Siklus II mencapai 47 orang siswa.
Untuk lebih jelasnya mengenai semua data tersebut di atas dapat dijabarkan melalui tabel dan grafik sebagai berikut :


Tabel 4.1.    Tabel Hasil Belajar Pra Siklus, Siklus I, Siklus II  dalam mata pelajaran Matematika siswa kelas II SD No. 9 Padangsambian, Kecamatan Denpasar Barat, Kota Denpasar.

NO
NAMA SISWA
PRA SIKLUS
SIKLUS I
SIKLUS II
1
Rizky Wahyudi Suanto
10
20
50
2
I Putu Ariadi
20
30
50
3
Ni Komang Ayu Suryantini
0
20
50
4
Ni Made Liana Prabasuari
50
50
55
5
Ni Komang Ayu Diana Putri
60
70
80
6
Ni Komang Ayu Mas Aryani
80
90
95
7
Ni Kadek Asih Jayanti
90
90
95
8
Ni Made Ayu Lestari
60
60
65
9
Ni Made Ayu Septiadi
40
60
65
10
Kadek Agus Adnyana
0
10
50
11
Luh Putu Amanda Eka Putri
80
90
100
12
I Komang Arjaya
10
40
50
13
I Putu Agus Sudiantara
20
40
55
14
Ni Kadek Aprilia Krismayanti
60
70
70
15
Desak Made Audya Maharani
40
50
70
16
I Komang Arik Setiana
30
50
65
17
Made Arta
30
50
65
18
I Putu Ardita Darma Putra
40
50
65
19
A. A. Ketut Ari Mahendra
10
40
55
20
Gede Arya Pratama Adi Gupta
10
40
55
21
Ni Kadek Deristia Dewi
60
60
70
22
Putu Denny Ananda Viandra
30
50
70
23
Ni Kadek Dianika Wedrayani
60
70
75
24
Dede Saputra
60
70
75
25
I Made Dharma Yasa
80
90
100
26
I Ketut Edi Agusaputra
50
50
65
27
I Gst. A. Gede Hendra Wirawan
70
70
85
28
Ignatius Putu Septian Adi Guna
70
80
80
29
I Kadek Juliarsa
60
60
70
30
I Putu Krisna Megadana
0
40
55
31
Kadek Mela Agustini
70
80
80
32
Ni Kadek Meira Anjani
50
60
70
33
Ni Putu Mila Febriyanti
60
70
75
34
Ni Made Narshea Putri
40
50
50
35
Ni Kadek Novia Ningsih
50
60
70
36
Ni Putu Pebri Sucita Dewi
50
50
55
37
A. A. Ngr. Gede Panji Muliarta
70
70
75
38
Ketut Paris Kariarta
20
50
60
39
I Komang Satria Darmawan
60
70
70
40
Ni Putu Sri Anggreni
70
70
75
41
Ni Made Willy Adnya Saputra
60
70
75
42
Kadek Widi Artini Putri
10
40
55
43
I Gede Wiswa Dwi Antara Pati
50
60
65
44
I Gede Wahyu Sesrawan
70
80
95
45
Ni Luh Putu Widyawati
20
40
55
46
Putu Widiarta
50
50
55
47
Ni Putu Widiyanti
40
50
55
JUMLAH
2120
2680
3185
RATA-RATA
45,11
57,02
67,77
PERSENTASE KETUNTASAN
Catatan:
Kreteria Ketuntasan Minimal (KKM) = 50




Grafik 4.1.   Grafik Hasil Belajar Pra Siklus, Siklus I, Siklus II  dalam mata pelajaran Matematika siswa kelas II SD No. 9 Padangsambian, Kecamatan Denpasar Barat, Kota Denpasar.




Tabel 4.2. Tabel keaktifan belajar siswa pada Pra Siklus, Siklus I, Siklus II dalam mata pelajaran Matematika siswa kelas II SD No. 9 Padangsambian, Kecamatan Denpasar Barat, Kota Denpasar.

NO
NAMA SISWA
KEAKTIFAN
KET
PS
SK I
SK II
KA
CA
SA
KA
CA
SA
KA
CA
SA
1
Rizky Wahyudi Suanto
P


P



P


2
I Putu Ariadi
P


P



P


3
Ni Km. Ayu Suryantini
P


P



P


4
Ni Md. Liana Prabasuari
P


P



P


5
Ni Km. Ayu Diana Putri

P


P



P

6
Ni Km. Ayu Mas Aryani

P



P


P

7
Ni Kadek Asih Jayanti

P


P



P

8
Ni Made Ayu Lestari
P


P



P


9
Ni Made Ayu Septiadi
P



P


P


10
Kadek Agus Adnyana
P


P



P


11
Luh Pt. Amanda Eka P.


P


P


P

12
I Komang Arjaya
P


P



P


13
I Putu Agus Sudiantara
P



P


P


14
Ni Kdk. Aprilia K.
P


P



P


15
Dsk. Md. Audya M.

P


P


P


16
I Komang Arik Setiana
P



P


P


17
Made Arta
P



P


P


18
I Pt. Ardita Darma Putra
P



P


P


19
A. A. Kt. Ari Mahendra
P


P



P


20
Gd. Arya Pratama A. G.
P


P



P


21
Ni Kadek Deristia Dewi

P


P



P

22
Pt. Denny Ananda V.

P


P



P

23
Ni Kdk. Dianika W.

P


P



P

24
Dede Saputra

P


P


P


25
I Made Dharma Yasa

P



P


P

26
I Ketut Edi Agusaputra

P


P


P


27
I Gst. A. Gd. Hendra W.

P


P


P


28
Ign. Pt. Septian Adi G.

P


P



P

29
I Kadek Juliarsa
P


P



P


30
I Putu Krisna Megadana
P


P



P


31
Kadek Mela Agustini

P


P


P


32
Ni Kadek Meira Anjani
P



P


P


33
Ni Putu Mila Febriyanti

P


P


P


34
Ni Made Narshea Putri
P


P



P


35
Ni Kadek Novia Ningsih

P


P


P


36
Ni Pt. Pebri Sucita Dewi
P


P



P


37
A. A. Ngr. Gd. Panji M.
P



P


P


38
Ketut Paris Kariarta
P



P


P


39
I Km. Satria Darmawan

P


P


P


40
Ni Putu Sri Anggreni

P



P


P

41
Ni Md. Willy Adnya S.

P


P


P


42
Kadek Widi Artini Putri
P


P



P


43
I Gd. Wiswa Dwi A. P.
P


P



P


44
I Gede Wahyu Sesrawan


P


P


P

45
Ni Luh Putu Widyawati
P


P



P


46
Putu Widiarta
P


P



P


47
Ni Putu Widiyanti
P


P



P


JUMLAH
27
18
2
19
23
5
0
36
11


Jika Sobat menyukai Artikel di blog ini, Silahkan masukan alamat email sobat pada kotak dibawah untuk berlangganan gratis via email, dengan begitu Sobat akan mendapat kiriman artikel terbaru dari Media Pendidik dan Pendidikan


Artikel Terkait:

0 Komentar
Tweets
Komentar

0 comments:

Poskan Komentar

Komentar anda sangat menentukan keberlangsungan blog ini.
Apabila anda tidak punya akun, gunakan anonymous
Apabila anda punya, gunakan Nama/URL
»Nama: diisi dengan nama anda
»»URL: diisi dengan alamat web, alamat email, dsb