FILOSOFIS CANANG





BAB I
PENDAHULUAN


1.1 Latar Belakang Masalah
Umat Hindu kini semakin yakin dan mantap serta mendalam dalam menghayati makna – makna yang terkandung dalam ajaran agamanya, sehingga pada setiap upacara yang diselenggarakan menimbulkan keinginan untuk mengetahuinya, terutama tentang apa arti, kegunaan, dan fungsi simbolisnya, yang kesemuanya bertujuan untuk mengadakan pendekatan secara rasional dan filosofis.
Sebagai mahasiswa STKIP Agama Hindu dipandang perlu mengetahui lebih jauh tentang filosofis setiap upakara dalam agama Hindu. Hal ini melatarbelakangi penulis untuk menguraikan sedikit mengenai filosofis kewangen dan canang.

1.2 Rumusan Masalah
Rumusan masalah dalam laporan ini adalah :
- Apa pengertian kewangen dan canang,
- Bahan apa saja yang digunakan,
- Apa makna dari bahan – bahan tersebut.

1.3 Tujuan
Tujuan dalam membuat laporan ini adalah :
1. Untuk mengetahui pengertian kewangen dan canang,
2. Mengetahui bahan apa saja yang digunakan,
3. Mengetahui makna dari bahan – bahan yang digunakan.

1.4 Manfaat
Manfaat membuat laporan ini adalah :
1. Mendapat pengetahuan tentang filosofi kewangen dan canang.
BAB II
PEMBAHASAN


2.1 Filosofis Canang
Canang berasal dari bahasa jawa kuno yang pada mulanya berarti sirih, yang disuguhkan pada tamu yang sangat dihormati. Jaman dulu, sirih benar – benar bernilai tinggi. Setelah agama Hindu berkembang di Bali, sirih itupun menjadi unsur penting dalam upacara agama dan kegiatan lain. Di Bali, salah satu bentuk banten disebut “Canang” karena inti dari setiap canang adalah sirih itu sendiri. Canang belum bisa dikatakan bernilai agama jika belum dilengkapi porosan yang bahan pokoknya sirih.
Perlengkapan canang adalah alasnya dipakai ceper atau daun pisang berbentuk segi empat, diatasnya berturut – turut disusun plawa, porosan, urasari kemudian bunga.
Makna masing – masing perlengkapan canang :
1. Plawa adalah daun – daunan. Telah disebutkan dalam Lontar Yadnya Prakerti bahwa plawa merupakan lambang tumbuhnya pikiran yang hening dan suci, sehingga dapat menangkal pengaruh busuk dari nafsu duniawi.
2. Porosan adalah dari pinang dan kapur yang dibungkus daun sirih. Dalam Lontar Yadnya Prakerti disebutkan pinang, sirih dan kapur adalah lambang pemujaan kepada Tuhan Yang Maha Esa dalam manifestasinya sebagai Sang Hyang Tri Murti. Pinang lambang pemujaan pada Dewa Brahma, kapur lambang pemujaan pada Dewa Siwa, sirih lambang pemujaan pada Dewa Wisnu.
3. Urasari adalah jejahitan, reringgitan, dan tetuwasan sebagai lambang ketepatan dan kelanggengan pikiran dan lambang permohonan pada TYME agar alam lingkungan hidup kita selaras dan seimbang.
4. Bunga adalah lambang keikhlasan. Apapun yang mengikat diri kita di dunia ini harus kita ikhlaskan sebab cepat / lambat dunia inipun akan kita tinggalkan.
Jadi canang mengandung arti dan makna perjuangan hidup manusia dengan selalu memohon bantuan dan perlindungan Tuhan Yang Maha Esa, untuk dapat menciptakan, memelihara dan meniadakan yang patut diciptakan, dipelihara, dan ditiadakan demi suksesnya cita – cita hidup manusia yakni kebahagiaan.
Canang dari segi penggunaannya dan bentuk serta perlengkapannya ada beberapa macam, misalnya : Canang Genten, Canang Burat Wangi, Lenge Wangi, Canang Sari, Canang Meraka, dan lain – lain.

2.2 Filosofis Kewangen
Kewangen berasal dari bahasa jawa kuno yaitu kata “Wangi” yang artinya harum. Mendapat awalan ‘ke’ dan akhiran ‘an’ menjadi kewangian disandikan menjadi kewangen artinya keharuman yang berfungsi untuk mengharumkan nama Ida Sang Hyang Widhi Wasa / Tuhan Yang Maha Esa.
Kewangen digunakan sebagai sarana dalam upacara yaitu sebagai pelengkap upakara / bebantenan. Kewangen paling bangak digunakan dalam upacara persembahyangan. Selain itu juga sebagai pelengkap dalam upakara untuk upacara Panca Yadnya.
1. Dewa Yadnya, sebagai pelengkap Banten Tetebasan, prascita, dan berbagai jenis sesayut.
2. Rsi Yadnya, juga sebagai pelengkap Banten Tetebasan.
3. Pitra Yadnya, dipakai dalam upacara menghidupkan mayat secara simbolis untuk diupacarakan yaitu pada setiap persendian tubuhnya.
4. Manusia Yadnya, digunakan pada setiap upacara ngotonin, potong gigi, perkawinan, dan pelengkap banten.
5. Bhuta Yadnya, digunakan dalam upacara memakuh, macaru, dll
Sarana untuk membuat kewangen :
a. Kojong, dibuat dari selembar daun pisang yang berbentuk segitiga lancip melambangkan Ardacandra.
b. Pelawa, potongan daun kayu seperti andong, pandan harum, puring, dan lain sejenisnya yang berwarna hijau lambang ketenangan.
c. Porosan, dibuat dari dua lembar daun sirih digulung dengan posisi menengadah satu, telungkup satu, disatukan. Ini disebut porosan silih asih lambang hubungan timbal balik antara baktinya umat manusia dengan kasih Ida Sang Hyang Widhi.
d. Kembang Payas, berbentuk cili, dibuat dari serangkaian jejahitan janur yang sudah diringgit / dibentuk. Melambangkan nada, reringgitan melambangkan rasa ketulusan hati.
e. Bunga, yaitu bunga hidup yang masih segar dan berbau harum / wangi melambangkan kesegaran dan kesucian pikiran dalam beryadnya.
f. Uang kepeng logam dua buah melambangkan Windu, uangnya melambangkan sesari / sarining manah. Selain itu uang berfungsi sebagi penebus segala kekurangan yang ada.

BAB III
PENUTUP

1. Kesimpulan
Berdasarkan data yang saya peroleh maka saya menarik simpulan bahwa :
1. Canang adalah berasal dari Bahasa Jawa Kuno yang berarti sirih.
Kewangen adalah keharuman yang berfungsi untuk mengharumnkan nama Ida Sang Hyang Widhi Wasa.
2. Bahan dalam canang adalah plawa, porosan, urasari, dan bunga.
Bahan kewangen adalah kojong daun pisang, pelawa, porosan, kembang payas, bunga, dan uang kepeng.
3. makna dari bahan – bahan canang dan kewangen sangat banyak salah satunya adalah :
Plawa dalam canang merupakan lambang tumbuhnya pikiran yang hening dan suci.
Kojong dalam kewangen melambangkan Ardacandra.
Jika Sobat menyukai Artikel di blog ini, Silahkan masukan alamat email sobat pada kotak dibawah untuk berlangganan gratis via email, dengan begitu Sobat akan mendapat kiriman artikel terbaru dari Media Pendidik dan Pendidikan


Artikel Terkait:

4 Komentar
Tweets
Komentar

4 comments:

zy said... Reply

boleh tanya g ????
gmana cara membuat musik autoplay yg ada d blog ini ???

Made Mudiartana, M.Pd. said... Reply

gunakan html,cari musik yg autoplay trus copy html-nya paste di gadget html...
jadi dech....

komo cool said... Reply

klo boleh usul,,musiknya dganti ma gong,angklung,rindik, ato musik bali biar lebih nyambung ma tema balix,,trim's sblumnya

Made Mudiartana, M.Pd. said... Reply

maaf...untuk blog ini bertema pendidikan.
terima kasih atas usulnya tapi saya berusaha untuk mengganti secara berkala autoplay lagunya, agar pengunjung tidak merasa bosan...

Post a Comment

Komentar anda sangat menentukan keberlangsungan blog ini.
Apabila anda tidak punya akun, gunakan anonymous
Apabila anda punya, gunakan Nama/URL
»Nama: diisi dengan nama anda
»»URL: diisi dengan alamat web, alamat email, dsb